Polisi Diminta Dalami Pasal Pembunuhan terkait Kasus Anak DPR

INDOPOS.CO.ID – Pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel meminta Polrestabes Surabaya menelaah lebih lanjut, sangkaan pasal dalam kasus dugaan aniaya Gregorius Ronald Tannur (GRT), yang membuat kekasihnya inisial DSA (29) meninggal dunia.

Polrestabes Surabaya telah menetapkan GRT sebagai tersangka, dengan sangkaan Pasal 351 ayat (3) KUHP dan atau Pasal 359 KUHP dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara.

Hal tersebut berarti, GRT sebatas ditersangkakan sebagai pelaku penganiayaan dan atau kelalaian yang mengakibatkan korbannya meninggal dunia.

“Polrestabes Surabaya patut mendalami kemungkinan penerapan Pasal 338 KUHP,” kata Reza dalam keterangannya, Jakarta, Sabtu (7/10/2023).

Berdasar penjelasan buku Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, pasal 338 KUHP berbunyi “Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama 15 tahun”.

Permintaan pendalaman pasal yang disangkakan terhadap GRT bukan tanpa alasan, ia telah mencermati, rangkaian kronologis perilaku kekerasan dilakukan yang bersangkutan. Tubuh korban terlindas oleh kendaraan terduga pelaku dan terseret sejauh 5 meter.

Mereka mendatangi tempat karaoke di Lenmarc Mal Jalan Jono Soewojo Surabaya pada, Selasa (3/10/2023). Menjelang tengah malam keduanya terlibat cek cok, kaki korban ditendang dan kepalanya dipukul menggunakan botol minuman keras.

“Dari urutan tersebut, terindikasi bahwa perilaku kekerasan GRT bereskalasi. Dari menyasar organ tubuh bagian bawah yakni, kaki ke organ tubuh bagian kepala,” ujar Reza.

Bahkan dari sebatas tangan kosong ke penggunaan alat yang tidak perlu dimanipulasi (botol), dan berlanjut ke penggunaan alat yang perlu dimanipulasi (mobil).

Terjadi eskalasi kekerasan sedemikian rupa, terlebih karena tidak ada yang meleset dari organ vital korban. Serta terdapat jeda antara menabrak dan kekerasan sebelumnya.

Baca Juga  Darurat Bullying Anak Sekolah, Ketua DPR Desak Pemerintah Lakukan Penanganan Khusus

Alih-alih menyetop, dalam kondisi kesadaran tersebut GRT justru menaikkan intensitas kekerasan terhadap sasaran. “Itu menjadi penanda, bahwa GRT sengaja tidak memfungsikan kontrol dirinya untuk menahan atau bahkan menghentikan serangan,” imbuh Reza. (dan)

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *